Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Oktober 2025

Dinamika Guru Profesional dan Realitasnya

Dinamika Guru Profesional dan Realitasnya

Oleh: Mulyono, S.Pd.I (Guru Madrasah Swasta)

Jatiluhuronline.com - Guru sebagai pendidik profesional dipercaya masyarakat untuk mendidik anak-anak mereka agar tumbuh dan berkembang menjadi manusia dewasa yang tidak hanya sehat jasmani tapi juga sehat rohaninya, anak-anak di didik untuk siap meneruskan perjuangan yang telah mereka rintis.

Kepercayaan dan harapan yang diberikan masyarakat ini merupakan tantangan bagi seorang guru. Artinya, guru senantiasa berusaha sekuat tenaga memenuhi harapan masyarakat dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, guru harus berusaha meningkatkan kualitas dirinya dengan terus menerus tanpa henti.

Guru yang berkualitas paling tidak memiliki tiga keunggulan, yaitu; keunggulan akademik, pedagogis, dan kematangan psikologis. Tanpa guru yang berkualitas, sebaik apapun kurikulum dan sarana prasarana yang dimiliki oleh sekolah, tujuan pendidikan dan pembelajaran sulit dicapai.

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan guru harus betul-betul berkualitas. Guru yang berkualitas adalah guru yang beriman dan bertaqwa kepada Allah, memiliki kemampuan, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar di dalam maupun di luar kelas.

Keharusan guru memiliki kemampuan pedagogis banyak disinggung dalam Al-Qur'an maupun hadits Rasulullah Saw. Firman Allah SWT yang secara tidak langsung menyuruh setiap guru untuk memiliki kemampuan pedagogis adalah surat an-Nahl ayat 125 :

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ

Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, (QS.16: 125).

Rasulullah Saw. menyuruh guru dan orang tua untuk mengetahui dan memahami perkembangan anak didiknya. Pengetahuan tersebut diperlukan agar guru dapat memperlakukan anak didiknya sesuai dengan tahap perkembangannya. Perintah tersebut ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud R.A :

مُرُوا أولادكم بالصلاة وهم أبناء سبع سنين، واضربوهم عليها وهم أبناء عَشْر، وفرقوا بينهم في المضاجع؛ رواه أحمد وأبو داود، وهو صحيح

Artinya: Suruhlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat jika mereka sudah berusia tujuh· tahun. Dan jika mereka telah berusia sepuluh tahun, pukulah dia (dengan penuh kasih sayang bila tidak mau melakukan shalat), dan pisahkanlah tempat tidur mereka.

Peran Orang tua

Jika mendefinisikan pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan bimbingan atau bantuan kepada anak didik untuk mencapai kedewasaannya. Maka orang yang paling bertanggung jawab dalam mengarahkan perkembangan anak adalah orang tua. Jadi, orang tua adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ra. :

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَ. مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِلَّا يوُلَدُ عَلَى الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يهَُوِّدَانِهِ وَينَُصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ (رَوَاهُ مُسْلِمُ)

 Artinya: Tidak ada anak yang dilahirkan kecuali, dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Muslim)

Sejatinya, orang tua adalah penanggung jawah utama pendidikan anak-anaknya. Karena pertumbuhan dan perkembangan anak berjalan dengan irama yang cepat, sedang kemampuan orang tua relatif terbatas, orang tua tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak mereka.

Oleh karena itu, orang tua memerlukan bantuan pihak lain untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan perkembangan anak-anaknya. Figur yang secara profesional dipercaya masyarakat untuk membantu orang tua dalam mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka adalah guru.

Peran Pemerintah

Pemerintah memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Hal ini diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan diperkuat juga oleh berbagai peraturan-undangan lainnya.

Peran pemerintah dalam pendidikan sangatlah vital dan multidimensional, mencakup: penyediaan akses dan infrastruktur (sarana prasarana, sekolah di daerah terpencil, bantuan pendidikan), pengembangan sistem pendidikan (kurikulum, teknologi, pelatihan guru, penjaminan mutu), perluasan dan pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas guru (pelatihan dan pengembangan), evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, serta pemenuhan hak pendidikan bagi seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas.

Tujuan utama pemerintah adalah menciptakan sumber daya manusia yang kompeten, berdaya saing, serta berkontribusi pada kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Penutup

Dinamika guru profesional mencakup upaya pengembangan diri, penguasaan kompetensi pedagogik dan profesional, serta adaptasi terhadap perubahan seperti kurikulum dan teknologi, namun realitasnya di Indonesia sering dihadapkan pada rendahnya kompetensi dan motivasi guru, distribusi guru yang tidak merata, beban administratif tinggi, serta isu kesejahteraan dan administrasi kepegawaian yang menghambat profesionalisme.

Kenyataan bahwa guru dituntut profesionalisme tinggi sementara kesejahteraannya minim adalah ironi di Indonesia, karena kesejahteraan yang memadai adalah syarat untuk meningkatkan kualitas dan motivasi mengajar. Kondisi ini diperparah dengan gaji guru, terutama guru honorer, yang seringkali jauh di bawah standar hidup layak, kurangnya dukungan pelatihan dan pengembangan profesional, serta tidak adanya perlindungan sosial yang cukup.

Pemerintah dan penyelenggara pendidikan sepatutnya memperhatikan kesejahteraan guru, padahal guru bertugas mencerdaskan anak bangsa yang akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi bangsa. Ketika pengabdian dan dedikasi guru tak lagi dihargai, wajar saja jika muncul pertanyaan, apakah guru di hari ini adalah panggilan jiwa untuk mengabdi atau sekedar pilihan terpaksa?

Maju atau mundurnya pendidikan sangat tergantung kepada kualitas guru, karena hanya guru yang berkualitas saja yang mampu mendukung terciptanya suasana proses belajar mengajar yang kondusif.

Oleh karena itu, guru dapat disamakan dengan pasukan tempur yang menentukan kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran. (*)

--------------------

Referensi : Dari berbagai sumber

Sabtu, 04 Oktober 2025

Mengenal Kitab Akhlak Lil Banin Karangan Syaikh Umar bin Ahmad Baradja


mtsypmi.com – Kitab Akhlak Lil Banin merupakan kitab yang tulis oleh Syaikh Umar bin Ahmad Baradja. Kitab ini sering dijadikan rujukan dalam proses belajar mengajar di madrasah-madrasah, pondok pesantren untuk mengajarkan anak atau para santri tentang etika dan sopan santun.

Kitab Akhlak Lil Banin merupakan kitab yang menerangkan adab atau etika sopan santun anak dimulai sejak usia dini dengan harapan anak terbiasa hormat, dan menghargai orang lain, terutama di hadapan orang yang lebih tua.

Selain itu, kitab Akhlak Lil Banin mencakup nilai-nilai baik yang harus dilakukan anak terhadap Allah dan Rasulullah SAW. berikut isi singkat kitab Akhlak Lil Banin selengkapnya.

1. Akhlak yang Harus Dimiliki Anak

Menurut kitab Akhlak Lil Banin, seorang anak harus memiliki akhlak yang baik sejak kecil supaya ia dicintai banyak orang dan diridhai Allah SWT hingga dewasa. Sebaliknya, mereka harus menjauhi akhlak buruk atau tercela agar tidak menjadi orang yang dibenci dan dimurkai Allah SWT.

2. Anak yang Sopan

Definisi anak sopan berdasarkan kitab Akhlak Lil Banin adalah yang berkata jujur, rendah hati, sabar, selalu menjalin tali silaturahmi, tidak memicu pertengkaran, dan tidak meninggikan suara saat bicara atau tertawa. Anak yang sopan juga ditandai dengan sikap hormat terhadap orangtua, guru, saudara yang lebih tua, orang yang lebih tua darinya, serta menyayangi saudara dan orang yang lebih muda darinya.

3. Akhlak terhadap Allah SWT

Nilai akhlakul karimah anak terhadap Allah SWT dapat tercermin melalui perilaku sebagai berikut:

  • Mensyukuri nikmat Allah dan beribadah hanya kepada-Nya.
  • Mengagungkan dan mencintai Allah, semua malaikat-Nya, Rasul-Nya, Nabi-Nya, dan hamba-Nya yang salih.
  • Mematuhi perintah dan menjauhi larangan-Nya

4. Akhlak terhadap Nabi Muhammad SAW

Nilai akhlakul karimah anak terhadap Rasulullah dapat tercermin melalui perilaku sebagai berikut:

  • Memuliakan Nabi SAW.
  • Memenuhi hati dengan memperbanyak cinta kepadanya sehingga lebih mencintainya daripada orangtua dan diri sendiri.
  • Mengikuti nasihat-nasihatnya dan mengamalkannya dalam kehidupan untuk mendapat kecintaan dan keridhaan Allah.

5. Sopan Santun Anak terhadap Kedua Orangtua

Seorang anak hendaknya mematuhi perintah orangtua dengan rasa suka dan rasa hormat. Buatlah hati mereka senang dengan tersenyum di hadapan mereka, mencium tangannya setiap hari, serta mendoakannya panjang umur dan sehat walafiat.

Anak harus menjaga lisan agar tidak menyakiti hati orangtua. Jangan berbohong, jangan bermuka masam kepada mereka, jangan melihat orangtua dengan tatapan tajam, dan jangan mengeraskan suara kepada mereka.

6. Sopan Santun Anak terhadap Saudara-saudaranya

Kitab Akhlak Lil Banin turut mengajarkan anak agar senantiasa bersikap sopan terhadap saudara-saudaranya. Sikap ini bisa tercermin melalui perilaku:

  • Mencintai saudara dengan tulus dan ikhlas.
  • Mengikuti nasihat mereka.
  • Menyayangi saudara yang lebih kecil.
  • Tidak mengganggu, memukul, memaki, saudara.
  • Sabar dan selalu mengalah.
  • Saling memaafkan.
  • Tidak bertengkar.

7. Sopan Santun Anak terhadap Tetangga

Dalam beberapa hadits yang diriwayatkan Rasulullah SAW, tetangga memiliki hak-hak tertentu yang harus dipenuhi agar kerukunan bertetangga tetap terjaga. Beberapa sikap terhadap tetangga yang harus diajarkan sejak dini pada anak antara lain:

  • Menjaga sopan santun.
  • Sering tersenyum.
  • Bermain dengan sopan.
  • Tidak mengambil mainan mereka tanpa izin.
  • Tidak membanggakan pakaian dan uang kepada mereka.
  • Saling berbagi.
  • Tidak mengejek.
  • Tidak mengeraskan suara saat mereka tidur.
  • Tidak mengotori dinding dan halaman rumah mereka.

Editor : MuL

Momentum Hari Santri Nasional Sebagai Spirit Jihad YPMI Wanayasa


mtsypmi.com – Hari Santri Nasional (HSN) yang digelar setiap tanggal 22 Oktober menjadi moment bersejarah yang tak boleh dilupakan, terutama perjuangan para pahlawan bangsa yang mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Reublik Indonesia, para kiyai dan santri pun ikut ambil bagian dalam moment tersebut.

Diantara bentuk penghormatan yang semestinya dilakukan untuk para pejuang bangsa di hari bersejarah tersebut, para santri atau pun siswa/siswi MTs dan MA YPMI Wanayasa menggelar peringatan hari santri sebagai spirit jihad fi sabilillah.

Peringatan Hari Santri digelar di lapangan upacara halaman masjid YPMI diikuti oleh seluruh santri/siswa/siswi serta dewan guru MTs dan MA YPMI. Jum’at (2/10)

Peringatan HSN menjadi bukti pengakuan negara atas jasa para ulama, kiai, dan santri dalam perjuangan merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Kalangan pesantren yang terdiri dari ulama, kiai, dan santri memang tak bisa dilepaskan dari sejarah perjalanan bangsa ini.

Jika kita melihat sejarah, peran kalangan pesantren dalam perjuangan bangsa sangat besar. Setelah proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, kondisi bangsa masih belum sepenuhnya aman. Para pejuang harus mempertahankan kemerdekaan melawan sisa-sisa tentara Jepang. Maka, pergerakan kaum pesantren yang dimotori para ulama, kiai, dan santri semakin dikuatkan, terutama melalui pembentukan Laskar Hizbullah di pelbagai daerah.

Peringatan HSN yang jatuh pada tanggal 22 Oktober tidak bisa dilepaskan dari semangat jihad yang dikumandangkan KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945 tersebut.

Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan:
“…Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja….”

Seruan KH. Hasyim Asy’ari tersebutlah yang kemudian menyalakan semangat perjuangan kalangan santri, bahkan kemudian menular dan merambah ke masyarakat luas di berbagai daerah untuk berperang melawan penjajah. (sr/m)

Makna Ibtida Hakiki dan Ibtida’ Idhofi


Makna Ibtida Hakiki dan Ibtida’ Idhofi

Oleh : Mulyono (Pengajar/Guru Bahasa Arab di MTs YPMI Wanayasa)

MTSYPMI.COM – Pembaca yang budiman dan yang dirahmati oleh Allah SWT, para ulama terdahulu maupun ulama modern (masa kini) dalam menyusun kitab-kitabnya selalu diawali dengan kalimat Basmallah (Bismillahir rahmanir rahim) kemudian diikuti kalimat Hamdallah (Al Hamdulillah).

Hampir semua kitab yang ditulis para ulama ini tak lepas dari kalimat-kalimat tersebut, hal tersebut dilakukan para ulama boleh jadi mengikuti susunan al-Qur’an ayat pertama (Basmallah) dan kedua (Hamdalah) dalam surat al-Fatihah.

Ketika kedua kalimat ini dijelaskan oleh para mushanif (pengarang) kitab-kitab matan, beliau menguraikan alasan memulai dengan basmalah dan diikuti hamdalah karena mengikuti susunan al-Qur’an dan merujuk pada kedua hadis yang mengisyarahkan sunat memulai suatu pekerjaan yang baik dengan basmallah dan diakhiri dengan hamdalah.

Alasan lainnya, sebagai isyarah bahwa di antara dua hadis itu tidak terjadi pertentangan (ta’arudh) dan keduanya bisa dikompromikan dengan memaknai permulaan dengan basmallah sebagai ibtida’ hakiki dan memaknai permulaan dengan hamdalah sebagai ibtida’ idhafi.

Dalam memaknai Ibtida’ Hakiki dan Ibtida Idhafi ini, dapat kita lihat dalam Busyra al-Kariim bii Syarh Masail at-Ta’lim, hal. 44.

ولا تعارض بين حديث البسملة والحمدلة؛ إذ الابتداء
– حقيقي وهو: ما تقدم أمام المقصود ولم يسبق بشيء
– وإضافي [وهو]: ما تقدم أمام المقصود سواء سبق بشيء أم لا، فحُمل خبر البسملة على الحقيقي، وخبر الحمدلة على الإضافي، ولأن في رواية بـ”ذكر الله”، وبها يندفع التعارض من أصله؛ لأنها مبيِّنة أن المراد: بأيِّ ذكر كان، فيحصل بجميع أنواعه من بسملة وحمدلة وغيرهما، كما أوضحته في الأصل

Dalam pengertian diatas, dapat kita simpulkan :
Ibtida’ Hakiki, yaitu kalimat pembuka sebelum masuk kedalam pembahasan dan tidak ada kalimat lain sebelumnya. dengan demikian, Basmallah disebut ibtida’ hakiki karena basmallah disebutkan sebelum masuk dalam pembahasan dan tidak ada kalimat lain sebelum basmallah.

Ibtida’ Idhafi, yaitu kalimat pembuka sebelum masuk dalam pembahasan, namun sebelumnya sudah ada kalimat lain. Dengan demikian, Hamdallah disebut ibtida’ idhafi karena ia disebutkan sebelum masuk dalam pembahasan namun sebelumnya ada basmallah.
Wallahu a’lam

Catatan : Para pembaca yang budiman, jika anda berminat menulis artikel seputar dunia pendidikan islam atau artikel lainnya untuk dipublikasikan di website ini, silahkan anda kirim melalui e-mail : info.ypmi@gmail.com

Siapa yang Menanam Dia yang Akan Menuai


mtsypmi.com – Kita mungkin sering mendengar peribahasa mengatakan “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” apa maksudnya? Maksudnya, jika seseorang menanam kemaslahatan (kebaikan), maka ia akan menuai kemaslahatan pula. Dan jika seseorang menanam kemadhorotan (kejelekan), maka ia akan menuai hasil yang madhorot pula.

Hal tersebut juga dijelaskan dalam beberapa Hadits dan ayat Al Qur’an.

Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua penjagaan.

Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.

Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada tunggangannya.

Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Mudah Memaafkan dan Tawadhu’, Menuai Kemuliaan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ رَجُلاً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. “

Seseorang yang selalu memaafkan akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat. Begitu pula orang yang tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, ia akan ditinggikan derajatnya di dunia, Allah akan senantiasa meneguhkan hatinya dan meninggikan derajatnya di sisi manusia, serta kedudukannya pun akan semakin mulia. Di akhirat pun, Allah akan meninggikan derajatnya karena ketawadhu’annya di dunia.

Berperilaku Baik, Menjadi Teman Akrab

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”

Menolong dan Memudahkan Sesama, Menuai Pertolongan dan Kemudahan dari Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Di antara bentuk pertolongan di sini adalah seseorang memberikan kemudahan dalam masalah utang. Ini bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, memberikan tenggang waktu pelunasan dari tempo yang diberikan, ini hukumnya wajib. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (QS. Al Baqarah: 280).

Cara kedua, dengan memutihkan hutang tersebut, dan ini dianjurkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)

Berkebalikan dari sikap baik ini adalah mengenakan riba pada saudaranya yang menunda utang. Ini adalah berkebalikan dari memberi kemudahan. Maka tentu saja orang yang memberi kesulitan pada saudaranya akan menuai hasil yang sebaliknya.

Usaha disertai Tawakkal akan Menuai Hasil

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki.”

Wallahu a’lam

Renungan : Tiga Penyakit Hati dalam Kitab Bidayatul Hidayah

 


Tiga Penyakit Hati Dalam Kitab Bidayatul Hidayah – Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i

Oleh : Mulyono (Staf Pengajar di MTs YPMI Wanayasa)

mtsypmi.com – Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu menghindarkan diri dari sifat-sifat tercela, dari segala penyakit hati, agar selamat dunia dan akhirat.

Bahkan para ulamapun mengajarkan demikian, seperti yang disebutkan Dalam kitab Bidayah Al Hidayah karangan Syaikh Imam Ghazali menyebut tiga hal yang dapat membinasakan manusia karena penyakit hati.

Al Ghazali menyebutkan tiga sifat itu ghalib (lazim) ada pada diri manusia, bahkan dari kalangan para ulama dimasa sekarang (zaman Imam Al Ghazali semasa hidup).

Tiga penyakit hati itu antara lain hasad (dengki), riya (pamer dan berbuat baik karena ingin dipuji orang lain), dan ujub (angkuh, sombong dan berbangga diri).

Imam Al Ghazali menyampaikan, umat muslim harus bersungguh-sungguh menghindari dan membersihkan hati dari sifat hasad, riya, dan ujub. Apabila tiga sifat tersebut bisa dihindari maka akan bisa mengetahui cara untuk menjauhkan diri dari sifat tercela lainnya.

Namun sebaliknya, apabila tidak bisa menyucikan hati dari sifat hasad, riya dan ujub. Maka tidak akan mampu menghadapi sifat tercela lainnya yang muncul dalam hati.

Imam Al Ghazali mengingatkan, jangan beranggapan setelah memiliki niat yang baik dalam menuntut ilmu, berarti telah selamat dari sesuatu yang berbahaya. Sementara di dalam hati masih ada sifat hasad, riya dan ujub. Rasulullah Nabi Muhammad SAW bersabda:

ثلاثٌ مُهلِكاتٌ : شُحٌّ مُطاعٌ ، و هوًى مُتَّبَعٌ ، و إعجابُ المرءِ بنفسِه

“Ada tiga sifat yang dapat membinasakan manusia, sikap bakhil yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan merasa bangga dengan diri sendiri.”

Syaikh Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa sifat hasad merupakan cabang dari penyakit hati bakhil. Karena orang bakhil adalah orang yang tidak mau memberi sesuatu yang ada di tangannya kepada orang lain. Wallahu a’lam bishawab…