Sabtu, 04 Oktober 2025

Siapa yang Menanam Dia yang Akan Menuai


mtsypmi.com – Kita mungkin sering mendengar peribahasa mengatakan “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” apa maksudnya? Maksudnya, jika seseorang menanam kemaslahatan (kebaikan), maka ia akan menuai kemaslahatan pula. Dan jika seseorang menanam kemadhorotan (kejelekan), maka ia akan menuai hasil yang madhorot pula.

Hal tersebut juga dijelaskan dalam beberapa Hadits dan ayat Al Qur’an.

Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua penjagaan.

Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.

Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada tunggangannya.

Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan

Dari sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”

Mudah Memaafkan dan Tawadhu’, Menuai Kemuliaan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ رَجُلاً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

“Sedekah tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. “

Seseorang yang selalu memaafkan akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat. Begitu pula orang yang tawadhu’ (rendah diri) karena Allah, ia akan ditinggikan derajatnya di dunia, Allah akan senantiasa meneguhkan hatinya dan meninggikan derajatnya di sisi manusia, serta kedudukannya pun akan semakin mulia. Di akhirat pun, Allah akan meninggikan derajatnya karena ketawadhu’annya di dunia.

Berperilaku Baik, Menjadi Teman Akrab

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini.”

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa.”

Menolong dan Memudahkan Sesama, Menuai Pertolongan dan Kemudahan dari Allah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Di antara bentuk pertolongan di sini adalah seseorang memberikan kemudahan dalam masalah utang. Ini bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, memberikan tenggang waktu pelunasan dari tempo yang diberikan, ini hukumnya wajib. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (QS. Al Baqarah: 280).

Cara kedua, dengan memutihkan hutang tersebut, dan ini dianjurkan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)

Berkebalikan dari sikap baik ini adalah mengenakan riba pada saudaranya yang menunda utang. Ini adalah berkebalikan dari memberi kemudahan. Maka tentu saja orang yang memberi kesulitan pada saudaranya akan menuai hasil yang sebaliknya.

Usaha disertai Tawakkal akan Menuai Hasil

Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki.”

Wallahu a’lam

Program Umum Pramuka

 


Program Umum Pramuka MTs YPMI Wanayasa 2020/2021

Bidang Kegiatan dan Latihan Peserta Didik

a. Penerapan Sistem Reguler Pembinaan Kepramukaan, melalui kegiatan:

1) Latihan Rutin

2) Pencapaian SKU

3) Pencapaian SKK

  • 2 macam SKK Agama
  • 2 macam SKK Patriotisme dan Seni Budaya
  • 2 macam SKK Ketangkasan dan Kesehatan
  • 2 macam SKK Ketrampilan dan Teknik Pembangunan
  • 2 macam SKK Sosial, Perikemanusiaan, Gotong Royong, Ketertiban Masyarakat, Perdamaian Dunia dan Lingkungan Hidup

4)    Peningkatan mutu latihan pramuka penggalang meliputi jenjang:

  1. a) Ramu
  2. b) Rakit
  3. c) terap

5)    Gladian Pemimpin Regu ( 1 kali )

6)    Perkemahan Sabtu Minggu ( 2 kali )

7)    Penjelajahan dan Survival Game

8)    Perkemahan Jauh dan Pengembaraan ( 1 kali )

9)    Lomba Tingkat I ( 1 kali )

10) Bakti Masyarakat ( 2 kali )

11) Pengiriman peserta calon penggalang garuda ke tingkat Kwartir Ranting dan Cabang.

12) Kegiatan dengan gugus depan lain ( latihan gabungan )

13) Musyawarah Gugus Depan

Bidang Sarana dan Administrasi

Mengusahakan tersedianya kelengkapan administrasi dan sarana penunjang kegiatan Gugus Depan yang meliputi :

  1. Buku Induk Gugus Depan
  2. Buku Jurnal Kegiatan Harian / Mingguan
  3. Buku Administrasi Keuangan
  4. Daftar Inventaris Gugus Depan
  5. Buku Tamu Gugus Depan
  6. Laporan Semester Gugus Depan
  7. Catatan Peristiwa Penting Gugus Depan ( Log Book )
  8. Pengadaan Tenda tambahan Pramuka
  9. Pengadaan alat pionering
  10. Pengadaan alat navigasi
  11. Pengadaan alat survival

Tingkatkan Kualitas Pendidikan Madrasah, MTs YPMI Menggelar PKKM


Wanayasa, mtsypmi.com – Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah, MTs YPMI Wanayasa Kabupaten Purwakarta menggelar Penilaian Kinerja Kepala Madrasah (PKKM) untuk tahun pelajaran 2020-2021.

PKKM tersebut dinilai langsung oleh Tim Assesor/Pengawas Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kabupaten Purwakarta H. Mamat Ruhimat, M.Pd dan Hj. Enen Komariah, Senin (18/1/2021).

Pengawas MTs Kabupaten Purwakarta H. Ruhimat, M.Pd mengatakan, PKKM untuk MTs swasta ini merupakan suatu proses pengumpulan, pengolahan dan analisis agar mengetahui data rancangan kegiatan madrasah dalam kegiatan belajar mengajar siswa dan guru.

Kemudian, kegiatan ini untuk mengetahui kualitas kepala madrasah dalam melaksanakan tugas pokoknya yaitu usaha mengembangkan madrasah, pelaksanaan tugas manajerial, pengembangan kewirausahaan, pelaksanaan supervisi kepada guru dan tenaga pendidik, dan hasil kinerja kepala madrasah.

“Tujuannya mengejar madrasah lebih baik sesuai dengan tagline Madrasah Hebat dan Bermartabat. Ketika usaha pengembangan sudah hebat jadi nanti madrasahnya juga hebat,” katanya.

Penilaian kinerja tahunan ini, dilakukan sesuai dengan peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 58 tahun 2017.

Kegiatan PKKM tersebut juga dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Munawwarotul Islam (YPMI) H. Mokh. Edi Suhaedi, Kepala Madrasah, Pengurus Yayasan dan para guru MTs YPMI. (Moel)

Renungan : Tiga Penyakit Hati dalam Kitab Bidayatul Hidayah

 


Tiga Penyakit Hati Dalam Kitab Bidayatul Hidayah – Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i

Oleh : Mulyono (Staf Pengajar di MTs YPMI Wanayasa)

mtsypmi.com – Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk selalu menghindarkan diri dari sifat-sifat tercela, dari segala penyakit hati, agar selamat dunia dan akhirat.

Bahkan para ulamapun mengajarkan demikian, seperti yang disebutkan Dalam kitab Bidayah Al Hidayah karangan Syaikh Imam Ghazali menyebut tiga hal yang dapat membinasakan manusia karena penyakit hati.

Al Ghazali menyebutkan tiga sifat itu ghalib (lazim) ada pada diri manusia, bahkan dari kalangan para ulama dimasa sekarang (zaman Imam Al Ghazali semasa hidup).

Tiga penyakit hati itu antara lain hasad (dengki), riya (pamer dan berbuat baik karena ingin dipuji orang lain), dan ujub (angkuh, sombong dan berbangga diri).

Imam Al Ghazali menyampaikan, umat muslim harus bersungguh-sungguh menghindari dan membersihkan hati dari sifat hasad, riya, dan ujub. Apabila tiga sifat tersebut bisa dihindari maka akan bisa mengetahui cara untuk menjauhkan diri dari sifat tercela lainnya.

Namun sebaliknya, apabila tidak bisa menyucikan hati dari sifat hasad, riya dan ujub. Maka tidak akan mampu menghadapi sifat tercela lainnya yang muncul dalam hati.

Imam Al Ghazali mengingatkan, jangan beranggapan setelah memiliki niat yang baik dalam menuntut ilmu, berarti telah selamat dari sesuatu yang berbahaya. Sementara di dalam hati masih ada sifat hasad, riya dan ujub. Rasulullah Nabi Muhammad SAW bersabda:

ثلاثٌ مُهلِكاتٌ : شُحٌّ مُطاعٌ ، و هوًى مُتَّبَعٌ ، و إعجابُ المرءِ بنفسِه

“Ada tiga sifat yang dapat membinasakan manusia, sikap bakhil yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan merasa bangga dengan diri sendiri.”

Syaikh Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa sifat hasad merupakan cabang dari penyakit hati bakhil. Karena orang bakhil adalah orang yang tidak mau memberi sesuatu yang ada di tangannya kepada orang lain. Wallahu a’lam bishawab…